Laman

Minggu, 02 Juni 2013

MENATA ORGANISASI

Dalam masa masa normal, ideologi kelas penguasa mendominasi kesadaran massa bukan hanya karena sang penguasa memiliki kontrol terhadap sarana produksi ideologis (seperti masjid, sekolah, media massa dll), tetapi juga karena kondisi kondisi normal kehidupan dari kelas kelas yang bekerja. Dalam kehidupan sehari hari massa rakyat dihisap dan disiksa melalui eksploitasi dan pengasingan terhadap kerja, sebagaimana juga melalui kurangnya waktu luang yang sebenarnya.


Pengantar tulisan di atas cukup menjadi kesimpulan kondisi kaum buruh hari ini, dimana tradisi berorganisasinya lemah. Yang pada kenyataanya ini disebabkan sistem ekonomi kapitalisme telah membentuk suatu Budaya (diartikan: pola pikir dan perilaku) individualis, ketergantungan, materialistik. Bukan saja massa buruh, pada level pimpinan-pun masih besar penyakit ini dan dengan sadar kita memahami maka kita harus berani merubahnya.

Tradisi berorganisasi yang lemah salah satu penyebabnya adalah keterasingan massa buruh terhadap kerja dan lingkungan sosialnya. Sehingga propaganda kapitalisme pada iming-iming kesenangan semu selama ini melalui media dan pola hidup telah menempatkan kerja-kerja organisasi dinomor duakan, bahkan nomor kesekian daripada aktiftas mencari kesenangan individu. Maka tugas berat pengurus, pimpinan dan aktifis SB yang progresif adalah terus menerus melakukan perbaikan dan pembenahan cara berorganisasi dengan memberikan kepeloporan (tauladan/contoh) kepada massa buruh dalam melakukan kerja organisasi dan melakukan perlawanan.

Orgnisasi yang maju bukanlah organisasi yang tanpa kesalahan, tetapi yang mau mengoreksi kesalahan-kesalahan secara terus menerus dan merubahnya dalam menjalankan langgam kerjanya. Nah, konsolidasi ini harus dijadikan alat untuk membenahi diri dan organisasi ini tanpa memberikan satu cap/stigma kepada kawan kita sendiri yang bersalah atau dengan menghukum individu dengan sewenang-wenangan. Karena kesalahan dalam berorganisasi adalah kesalahan bersama, bukan perorangan. Tetapi kesalahan individu dalam berorganisasi hanya satu yakni korupsi.

Melihat kenyataan Kita (Kaum Buruh)
Berdiskusi soal ini tentu tidak sekedar melihat secara khusus kondisi di kota atau wilayah tertentu tetapi juga memotret gerakan buruh secara umum dan nasional. Di tengah usaha konsolidasi Persatuan Gerakan Buruh, kita masih dihadapkan dengan kondisi internal gerakan secara umum :
1.    Tradisi berorganisasi yang lemah kaum buruh. Lebih dikarenakan banyaknya ketakutan-ketakutan dengan perusahaan serta lebih banyak menghibur diri dengan perilaku-perilaku yang tidak berlawan serta bersifat individualis.
2.    Serikat Buruh yang belum mampu membangun demokrasi internal yang mengacu pada tujuan organisasinya, kaderisasi dan tradisi “kolektifitas” sehingga terjadi patronase dan ketergantungan pada satu orang pimpinan.
3.    Serikat Buruh bergerak secara terkotak-kotak, “Lokalis” dan “Linier”, artinya bergerak lokalis dengan melihat bahwa persoalan sesungguhnya dan sumber persoalan adalah “hanya” di perusahaan bukan sistem yang terbangun oleh kapitalisme dengan menggunakan instrumen negara. Lokalis dalam penyikapan isu-isu yang ada di wilayah dan sektor kerjanya saja (kayu, garment, transportasi, dll), tanpa melihat sumber persoalan secara benar. Linier dalam membangun organisasi, yakni menunggu organisasi satu perusahaan atau satu wilayah kuat dulu baru membangun organisasi nasional padahal menyadari ada sumber persoalan di tingkat kekuasaan.
4.    Serikat Buruh berpandangan jangka pendek dan pada wilayah ekonomis atau hak-hak normatif saja. Padahal kalau kita bertanya siapa yang membuat kebijakan ini, maka akan dijawab bahwa sumber kebijakan ada di kekuasaan politik dan dihasilkan dari sebuah proses politik. Proses politik dan hasil kebijakan politik tentunya didasarkan atas kepentingan yang dibawa oleh pelaku politik. Dan kaum buruh sebagai penggerak roda ekonomi (pakai istilah orde baru), dan sebagai penduduk mayoritas yang memiliki kepentingan untuk sejahtera tidak memiliki sebuah organisasi politik sebagai alat mencapai kepentingannya tersebut. Kekuatan besar kaum buruh atau kelas pekerja hanya dijadikan gerbong penarik/pencetak suara partai politik kaum borjuasi/pemilik modal (bisa kita lihat siapa yang sekarang menjadi pemimpin dari partai politik dan yang masuk menjadi wakil rakyat di parlemen).
5.    Kebijakan negara yang mengabdi pada kepentingan kapitalisme telah mengurangi keanggotaan serikat karena PHK dan perubahan status kerja.
6.    Serikat Buruh masih terjebak pada pengorganisiran di perusahaan saja, belum mengembangkan diri menjadi sentral gerakan rakyat di sekitar tempat kerja. Selain itu hegemoni budaya borjuasi telah membuat kaum buruh tidak memiliki rasa memiliki dan keinginan untuk berserikat, inilah tantangan terbesar kita.

Kenyataan miris ini bukan tanpa sebab dan juga pasti ada solusinya, proses penindasan kapitalisme yang telah melakukan pembaharuan model penghisapannya dengan berbagai cara untuk tetap mendapatkan akumulasi modalnya tanpa banyak “gangguan” dari buruhnya. Diantaranya adalah dengan menjauhkan hubungan produksi antara majikan yang sebenarnya dengan majikan perantara baik secara internasional maupun nasional, ini yang sering kita sebut sistem outsourcing. Juga kebijakan sistem kontrak yang pada ujungnya adalah memudahkan memberikan upah yang murah kepada kaum buruh, tanpa jaminan sosial dan memudahkan PHK tanpa memberikan konpensasi.

Mari Berbenah!
Kenyataan di atas mungkin masih sekian bagian dari banyak kenyataan yang membahayakan kekuatan perlawanan kelas pekerja khususnya dalam serikat buruh, namun kita harus berani mendatangi dan menerima kenyataan tersebut untuk kita rubah menjadi kenyataan-kenyataan yang positif dan berguna. Maka kita harus merubah tradisi berorganisasi kita dengan membangun tradisi baru, yakni :

v  Kolektivitas
Memahami praktek kolektivitas bukanlah dengan tahu sama tahu antar aktifis atau pengurus, namun harus dibangun mekanisme kolektivitas dalam organisasi. Kolektivitas bukanlah konspirasi yang tidak ada landasan prinsip dan hanya mengandalkan pembenaran-pembenaran untuk keuntungan segelintir orang. Kolektifitas dibutuhkan kepercayaan antar individu, tetapi kepercayaan yang terukur oleh praktek kerja dan komunikasi. Kolektivitas didasarkan pada demokrasi internal organisasi yang disandarkan pada tujuan, prinsip, program dan mekanisme organisasi.

Kolektivitas memerlukan sebuah pemahaman teoritis dan praktek yang seimbang terhadap tujuan dan prinsip serta program taktik organisasi, maka kader yang maju serta aktif dalam organisasi bisa mengarahkan anggota tepat dalam bekerja di organisasi. Bukan lagi intrik, isu atau sentimen pribadi yang dikembangkan dalam menjalankan organisasi. Atau kolektivitas yang salah sehingga menjadi patron, atau bahkan membangun sebuah komunitas sekte yang hanya mengandalkan kepercayaan tanpa rasionalisasi ilmiah. Maka kolektivitas yang kita bangun harus mendasarkan pada :

Ø  Minoritas tunduk pada mayoritas, dengan tetap menjunjung tinggi azas demokrasi dan perlindungan terhadap minoritas. Ide/pikiran/usulan minoritas tetap harus dinilai dan diperdebatkan, apabila sesuai kondisi maka harus dijadikan sebuah kesepakatan untuk dijalankan. Pun keputusan mayoritas. Sehingga tidak terjadi tirani mayoritas (mayoritas memaksakan kehendak tanpa sesuai kondisi dan kebutuhan organisasi).
Ø  Kepentingan individu dan mayoritas tunduk pada kepentingan organisasi
Ø  Adanya forum-forum organisasi untuk melakukan kritik oto kritik dan evaluasi kerja.
Ø  Mendasarkan atas kondisi obyektif dan subyektif  untuk melahirkan program, taktik-strategi dan isu-isu perjuangan.



Kolektivitas dipraktekkan dalam rapat-rapat organisasi untuk melakukan analisa, perencanaan, pembagian tugas dan evaluasi. Rutinitas dan terjadwalnya rapat organisasi di semua level organisasi adalah awal untuk kita membenahi organisasi, dan memeriksa kesalahan maupun kelemahan untuk dijadikan bahan memperbaiki dan memperkuat organisasi ke depan sehingga cita-cita dan tujuan organisasi tercapai.

v  Memperdalam teori dan mempertinggi praktek
Ruang untuk melihat kembali atas praktek-praktek kita baik secara individu maupun kolektif dalam organisasi harus dibuat dan diadakan, agar melahirkan sebuah teori maju atas dasar praktek yang telah ada. Maka, Bekerja dan Belajar di tengah-tengah massa secara terus menerus yang dilakukan tidak hilang begitu saja atau terputus dari generasi yang telah ada. Bekerja mengorganisir dan belajar diantara massa adalah hal paling efektif melihat kelemahan dan kekurangan kita, namun itu semua juga harus kita jadikan teori bersama sehingga semakin mempertinggi praktek kader kita dikemudian hari.

Memperbanyak praktek-praktek pengorganisasian tanpa panduan teori akan membuat kita mudah patah, gampang puas diri, dan akan tidak mendasarkan pada tujuan. Pun, demikian hanya bergumul dengan teori-teori akan membuat kita besar kepala, merasa paling hebat dan sok pahlawan. Maka harus kita padukan keduanya melalui diskusi rutin antar pengurus, pendidikan dan melakukan analisa bersama.

Kebiasaan kita malas berdiskusi, malas membaca dan juga malas berdebat secara ilmiah adalah penyakit kronis dan hasil penjajahan rezim kapitalisme melalui budaya yang harus kita hancurkan. Berdiskusi secara setara atas semua pengalaman yang dimiliki adalah cara mudah untuk mendapatkan teori terkini. Selain itu harus membuat perbandingan dengan teori-teori lain atas hasil praktek orang lain yang telah ditulis diberbagai bacaan yang ada. Ini agar praktek kita kemudian hari semakin berkualitas dan mendekatkan pada tujuan organisasi.

v  Kritik Oto Kritik
Kritik atas segala praktek dan juga kritik atas kerja kolektif kita harus terus menerus dilakukan dengan mendasarkan pada wilayah kerja organisasi, tugas serta fungsi sebagai pimpinan dan anggota. Agar evaluasi atau kritik kita tidak menjadi intrik sehingga membuat perpecahan organisasi. Semua perilaku dan juga praktek individu yang menghambat kerja organisasi diupayakan solusi terbaiknya.

v  Tertib organisasi dan bekerja fokus pada tanggung jawabnya.
Kita harus memeriksa kembali organisasi kita dalam hal administrasi dan fokus kerja masing-masing pimpinan di semua level organisasi. kita bisa secara kasar melihat bahwa administrasi, kasus dan juga pendidikan hanya dilakukan beberapa orang. Sementara dalam struktur tercatat beberapa orang yang tidak aktif. Maka berjalanlah dengan yang ada  bekerja pada prioritas kerja organisasi yang bisa dilakukan. Dengan memulai ini, maka kita telah mempelopori sebuah keteladan dalam menjalankan organisasi.

Individu dalam struktur yang tidak patuh dan tidak fokus pada tanggung jawabnya harus dibebaskan dari kerja, karena akan menghambat penguatan dan pembenahan organisasi. Seringkali kita menunggu semua orang bergerak dan bekerja sesuai fungsi dan tanggung jawabnya, tetapi kenyataan bahwa hanya sebagian orang yang mau bekerja dengan maksimal dan sebagian hanya melakukan kritik. Maka, menata kembali administrasi, dan fokus kerja pimpinan pada tanggung jawabnya dengan prioritas organisasi adalah langkah awal memperbaiki keadaan ini.

v  Solidaritas


v  Jangan Melupakan Propaganda, Pendidikan dan Rekrutmen
Selain proses persatuan yang terus kita galang di semua wilayah pengorganisiran, jangan melupakan untuk meningkatkan kualitas kerja internal organisasi. Memperbaiki dan terus meningkatkan kualitas individu dalam organisasi berbanding lurus dengan pembangunan kekuatan secara besar. Maka perdebatan dalam internal organisasi secara ilmiah harus terus dikembangkan. Meningkatkan kampanye dan propaganda organisasi kepada massa buruh secara luas harus diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya sebagai upaya menebar benih di tengah ladang. Ruang-ruang kerja bagi kader-kader baru harus diperbanyak agar lebih meningkatkan skill dan proses kaderisasi yang berkesinambungan.

Rekruitmen atau penambahan keanggotaan baik tingkat perusahaan untuk menambah anggotanya dan di tingkat wilayah atau nasional dengan menambah dan membangun serikat serikat baru adalah kewajiban kita. Apapun tendensi orang untuk berserikat harus kita hargai. Setelah masuk dalam barisan kita maka barulah kita rapikan dan kita samakan persepsi serta kita samakan gerak organisasinya. Jadi jangan pernah puas dengan basis yang kita miliki, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Jangan pernah pilih-pilih anggota yang masuk. Artinya kita tidak boleh berdiam puas diri dengan hasil sekarang, namun kita harus aktif mengorganisir untuk menambah anggota maupun memperkuat organisasi. Dan jangan melokalisir serta mengkerdilkan diri kita dengan hanya berjuang dalam ranah buruh perusahaan/pabrikkan, karena penindasan ada di mana-mana.

Dalam era neo-liberalisme, perjuangan  untuk membangun kembali bangsa, dan pasar nasional, produk nasional, dan pertukaran mata uang, sekali lagi terulang dalam sejarah sebagai hukum permintaan, yaitu pertumbuhan deregulasi tenaga kerja (secara informal)  mensyaratkan sebuah investasi publik yang besar, kuat dan berpusat untuk meningkatkan  ketenagakerjaan yang formal dengan syarat hidup sosial. Dengan kata lain,  akan ada kesamaan identitas klan yang membentuk benteng untuk pengorganisiran perjuangan  kaum miskin.

Sekali lagi, terus menerus memeriksa dan menata organisasi adalah syarat untuk memperbaiki kinerja dan memperkuat organisasi agar tetap dalam koridor perjuangan untuk kepentingan kelas pekerja, bukan untuk kepentingan elit organisasi. Nah, tantangan semakin besar namun kekuatan kita juga besar. Karena kaum buruh seperti raksasa yang tidur, maka untuk membangunkannya agar menjadi kekuatan perubahan butuh keuletan, kedisiplinan, dan kemauan besar melepas sebagian nafsu dan emosi pribadi.

Perjuangan lokal untuk memenangkan isu mendesak adalah benih yang baik bagi bangkitnya sebuah gerakan yang potensial untuk menjadi lebih radikal (secara Nasional). Pertanyaannya adalah tentang arah yang diambil: "apakah mereka menjadi sebuah gerakan yang berusaha untuk memenangkan tuntutan yang lebih besar pada sistim sosial yang berhubungan dengan kekuatan lokal dalam rangka memukul negara dan pendukungnya? Ataukah  gerakan itu hanya menjadi sebuah aktivitas untuk mencari donor dana dari luar negeri (atau hanya sekedar aktifitas moral saja)"? Ideologi “Borjuasi yang seolah-olah berjuang pro rakyat” mempromosikan  arah yang terakhir, sedangkan “pejuang Rakyat” konsisten dengan arah yang pertama. (Cuplikan Tulisan James Petras (dalam kurung penegasan ))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar